Aturan dan Ketentuan Impor Senjata Api Maupun Panah

By | 27/01/2017
Aturan dan Ketentuan Impor Senjata Api Maupun Panah, Untuk bisa memasukkan senjata api ini, importir harus, memiliki izin dari Kepala Kepolisian Republik Indonesia, memiliki Angka Pengenal Impor dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan Tempat pemasukan senjata api dan amunisi dapat dilakukan melalui pelabuhan laut maupun udara. Untuk pelabuhan laut dapat melalui Medan (Belawan), Jakarta (Tanjung Priok), Surabaya (Tanjung Perak), Makassar (Soekarno-Hatta). Untuk pelabuhan udara dapat melalui Bandara Polonia, Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Juanda dan Bandara Hasanuddin.
 
Aturan dan Ketentuan Impor Senjata Api Maupun Panah Prosedur yang harus ditempuh adalah, importir mengajukan permohonan kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia dengan mencantumkan :
 
_ identitas,
_ jumlah dan jenis senjata api,
_ negara penjual,
_ jangka waktu pemasukkan,
_ pelabuhan pemasukkan,
_ dan lain-lain
 
izin yang dikeluarkan berlaku selama enam bulan, dan apabila realisasi impor tidak dipenuhi dalm jangka waktu tersebut izin harus diperpanjang.
Peralatan Keamanan yang dapat digunakan untuk mengancam atau menakut-nakuti/mengejutkan berdasarkan Surat Direktur Intelpam atas nama Kapolri Nomor : R/WSD 404/VII/98/Dit LPP tanggal 21 Agustus 1998, adalah:
 
Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan DTSD Kepabeanan dan Cukai 13
 
a. Senjata gas air mata yang berbentuk :
_ pistol/ revolver gas
_ stick/ pentungan gas
_ spray gas
_ gantungan kunci gas
_ extinguising gun/ pemadam api ringan
_ pulpen gas, dll.
b. Senjata kejutan listrik yang berbentuk :
_ stick/ tongkat listrik
_ kejutan genggam
_ senter serba guna, dll.
c. Senjata panah :
_ model cross bow (senjata panah)
_ panah busur, dll.
d. Senjata tiruan/ replika
e. Senjata angin kaliber 4,5 mm
f. Alat pemancang paku beton
 
Surat Direktur Intelpam Nomor : B/337/VI/1988 Tanggal 20 Juni 1988 mengenai senjata api mainan yang impornya tidak perlu izin Kapolri :
a. Terbuat dari plastik.
b. Komponen pokok tidak terbuat dari : logam, aluminium atau sejenisnya.
c. Laras, magazen, kamar peluru, dan traggernya tidak berfungsi sbg senjata api.
 
Surat Direktur Intelpam Nomor : R/SWD-368/VII/1998/Dit LPP Tanggal 24 Juli 1998 mengenai senjata api tiruan :
 
a. Senpi type clock 17 pistol dari plastik
b. Crossman 50 caliber poin gun
c. The cat pistol
d. Marksman semi auto pistol
e. 22 black revolver mini cross bow
f. Mainan berbentuk senjata api asli
g. Replika senjata mainan menyerupai senpi
h. Alat keamanan/ bela diri yang sejenis

Sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 125 Tahun 1999 tentang bahan peledak, bahan peledak merupakan barang yang sangat berbahaya dan rawan, sehingga untuk mendukung kebutuhan dan penggunaannya dalam penyelenggaraan pembangunan nasional dan kegiatan pertahanan keamanan negara diperlukan adanya pengawasan dan pengendalian secara khusus.

”Bahan peledak” adalah suatu bahan atau zat yang berbentuk padat, cair, gas atau campurannya yang apabila dikenai suatu aksi berupa panas, benturan, atau gesekan akan berubah secara kimiawi menjadi zat-zat lain yang sebagian besar atau seluruhnya berbentuk gas dan perubahan tersebut berlangsung dalam waktu yang sangat singkat dan disertai efek panas dan tekanan yang sangat tinggi.

“Bahan Peledak” berarti senyawa kimia atau adukan mekanis yang mengandung unsur-unsur yang mengoksidasi atau mudah terbakar, dalam takaran, jumlah atau bungkusan sehingga jika dinyalakan oleh api, gesekan, gegaran, pukulan, atau peledakan dari bagian apa saja daripadanya, dapat atau dimaksudkan dapat menyebabkan ledakan. Bahan peledak termasuk, sebagai contoh dan tidak dimaksudkan sebagai pembatasan, serbuk mesiu, serbuk yang digunakan dalam peledakan, dinamit, sumbu detonator atau bahan peledak yang digunakan untuk menjalankan peledakan, serbuk yang tidak berasap, granat, ranjau atau alat peledak apa saja.

Bahan peledak tidak termasuk bahan bakar mesin kecuali jika digabungkan dengan adukan lain dengan tujuan menyebabkan peledakan Berdasarkan pasal 1 ayat (1) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 125 Tahun 1999 tentang Bahan Peledak

– Lampiran I.

Unsur-unsur definisi :

_ Bahan atau zat

_ Berbentuk padat, cair, gas, atau campurannya

_ Dikenai aksi berupa panas, benturan, gesekan

_ Berubah secara kimiawi

_ Menjadi zat lain (sebagian besar atau seluruhnya berbentuk gas)

_ Perubahannya berlangsung secara singkat

_ Disertai efek panas dan tekanan yang sangat tinggi

Bahan peledak ada dua macam yaitu komersial dan militer. Untuk bahan peledak militer, pembinaan dan pengendaliannya diatur khusus oleh Dephan dan Mabes ABRI/(TNI/POLRI). Untuk pengawasan pengendalian bahan peledak komersial telah disusun suatu Pedoman Pembinaan dan Pengendalian Bahan Peledak Komersial oleh Polri dan Depperindag. Kegunaan untuk latihan dan operasi militer, destruksi/ demolition, perizinan bahan peledak militer diatur khusus. Sedangkan untuk masalah ketentuan impornya konteks yang dibicarakan adalah mengenai bahan peledak militer dan bahan peledak komersial.

Untuk bahan peledak militer berdasarkan Pasal 25 Ayat (1.) Butir (h) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan, maka terhadapnya diberikan pembebasan bea masuk. Pembebasan bea masuk tersebut diberikan dengan cara pihak yang bersangkutan dalam hal ini Dephankam, Mabes TNI, atau Polri dapat langsumg mengajukan PIB (BC 2.0) dan dokumen pelengkap pabean lainnya kepada KPBC tempat pemasukkan barang.leh Dephan dan instansi terkait

Jika anda ingin tahu aturan tentang impor ini, anda bisa baca Aturan dan Ketentuan Impor Senjata Api Maupun Panah dari POLRI, bisa anda download disini .
89448623-Perkap-Nomor-8-Tahun-2012-Ttg-Izin-Senpi-Olahraga tentang aturan kepemilikan, memasukkan ke wilayah RI dan sebagainya.

Mungkin Anda Datang Kesini Mencari Informasi Tentang :

Silahkan bagikan ke teman-teman anda di :